Bu Grodefsky
Apabila dunia tampak dingin bagimu, nyalakanlah api untuk menghangatkannya
Kalau ada sesuatu yang terjadi di lingkungan permukiman kami, Anda dapat mengetahuinya langsung dari Bu Grodefsky, wanita yang memiliki toko kembang gula di ujung itu. Suaminya meninggal dunia tak lama setelah ia membuka toko itu, dan ia tak punya anak. Jadi, ia sediri yang berdiri di toko itu dari padi samapi malam. Toko itu adalah hidupnya, dan orang di permukiman yang keluar-masuk toko itu adalah keluarganya.
Bu Grodefsky adalah “wanita berita” harian kami—koran berjalan. Yang dilakukannya adalah bekerja di balik meja membuka soda. Namun pada tahun-tahun itu, tak ada seorang pun di permukiman kami yang memiliki telepon selain toko kembang gula di pojok itu. Jadi, kalau Bu Silverman mendapatkan telepon di toko kembang gula itu dan dokter mengatakan kepadanya bahwa tesnya positif, Bu Silverman akan berkata, “Oh, Dokter, senang sekali. Suamiku akan sangat bahagia!” dan Bu Grodefsky akan tahu bahwa seorang bayi sedang dalam perjalanan menuju dunia ini. Andaikata pacar Selma Lieberman melamar melaui telepon itu, ketika ia meninggalkan kotak telepon, ia akan memeluk dan mencium Bu Grodefsky.
Bagaimana pada umumnya Bu Grodefsky menyampaikan “buletin-buletin” mendadak ini kepada tetangga? Sederhana saja. Andaikata ada orang yang melahirkan, ia akan menggantungkan sebuah boneka kecil dari karet di jendela tokonya. Apabila ada orang yang bertunangan, dua kotak besar cokelat akan bertengger di jendela toko dengan sebuah tulisan yang bunyinya “Mazel Tov!” Setiap orang di lingkungan tersebut mengenal isyarat-isyaratnya.
Sabtu malam berada di toko kembang gula ujung itu merupakan suatu keharusan bagi kami, anak-anak muda. Kami akan berdiri di depan toko itu dari jam tujuh dan seterusnya, menunggu telepon-telepon “kencan” yang masuk. Apabila ada telepon masuk, Bu Grodefsky akan memberi isyarat kepada salah seorang di antara kami, memberi kami alamat gedungnnya, dan berkata, “Panggilan Sarah Goldberg—ini teman prianya—kencannya—upahnya satu nickel. Teriak yang keras.
Kami akan lari ke rumah yang dituju, berdiri di lorong, dan berteriak, “Sarah Goldberd! Telepon! Dari pacarmu! Kau ditunggu malam ini!” Sarah akan datang berlari melewati tangga itu sambil tersenyum, memberikan uang lima sen atau sepuluh sen kadang-kadang bahkan setalen—ke telapak tangan kami yang terjulur, dan bergegas menuju toko kembang gula itu.
Ini menguntungkan pula bagi Bu Grodefsky. Apabila anak-anak laki-laki itu tidak mampir untuk membeli sekotak kambang gula, lain kali kalau dia menelepon, kami mendapat perintah untuk mengundang teman kencangnya menuju telepon itu dengan “berbisik-bisik.” Kalau kami tidak mendapat jawaban, Bu Grodefsky akan mengatakan kepada si penelepon, “Teman kencannya minggu lalu pasti sudah membawanya keluar. Ia membeli sekotak kembang gula yang besar untuknya. Dengar, Anda di mana? Aku punya sekotak kembang gula yang menunggu Anda!” Penelepon memahami pesan itu—dan membeli kembang gula itu minggu berikutnya—dan gadis itu akan dipanggil bila ia menelepon.
Ketika tiba bagi kami untuk berdinas militer, Bu Grodefsky mengubah jendelanya. Ia meletakkan sebuah papan besar dengan sangat rapi menulis diatas dengan krayon berwarna, “Menjalankan dinas militer.” Seluruh pria di permukiman ity mengirimakn foto-foto kepadanya dari mana pun di dunia. Sungguh, banyak diantara mereka yang mencantumkan nama dan alamat Bu Grodefsky ketika angkatan darat meminta mereka memberitahukan siapa yang harus dihubungi bila dalam keadaan darurat. Merka tahu Bu Grodefsky akan menyampaikan berita kepada para orang tua meraka dalam keadaan darurat.
Setiap kali seoarang pemuda di permukiman tersebut dilaporkan hilang dalam tugas, Bu Grodefsky akan melihat petugas Western Union menghetikan sepedanya di depan rumah di seberang jalan tokonya. Di tahun-tahun itu, kalau kita melihat seorang petugas Western Union, kita akan tahu bahwa akan ada kabar buruk. Jadi, Bu Grodefsky akan menutup tokonya dan pergi ke apartemen tempat telegram itu disampaikan. Dari tangisan yang didengar dilorong apartemen, ia sudah tahu apa isi telegram itu. Malam itu, foto pemuda yang tergantung bersama foto lain dijendelanya akan diberi pinggiran dengan warna krayon hitam. Dalam waktu yang sangat singkat, papan yang berdiri di jendelanya itu memiliki delapan foto yang diberi pinggiran hitam.
Ketika setiap anak dilaporkan hilang, ia mengadakan shiva, sebuah upacara berkabung agama Yahudi, untuk mereka masing-masing, mereka adalah anak-anaknya! Satu demi satu! Sungguh, anak-anak sering kali mengatakan kepadanya hal-hal yang tak mungkin mereka sampaikan kepada masing-masing dengan gayanya sendiri yang tak mungkin ditiru dan senantiasa mengirimkan sebatang permen karet Wrigley agar anak-anak itu akan mengingat toko kembang gula tua di pojokan tersebut.
Setelah perang usai, Bu Grodefsky membawa papan itu keluar dari jendelanya dan dengan hati-hati melepaskan foto-foto para pemuda yang hilang dalam peperangan. Ia membuat papan lain dan meletakkan bingkai hitam di sekelilingnya. Ia menempatkan delapan gambar pemuda yang hilang itu di tengahnya dan setiap malam sepanjang aku dapat mengingatnya, ia menyalakan sebuah lilin kenangan Yahrzit dan menempatkan di depan papan itu. Ini merupakan cahaya abadi bagi “anak-anaknya.”
Wanita tua itu menjalankan toko kembang gula itu selama beratahun-tahun, bahkan setelah sebagian besar orang di permukiman tua itu pindah. Pemuda-pemuda Puerto Rico yang masuk ke permukiman tersebut tetap menjadi “anak-anaknya.” Mereka menyayangi wanita tua itu.
Ketika ia meninggal dunia, kukira itulah satu-satunya saat dalam sejarah di mana lebih banyak orang Puerto Rico dari pada orang Yahudi yang memasuki kuil kami yang tua. Mereka semuanya melayat wanita tua tersayang itu. Meskipun ia tisak mempunyai keluarga dekat, sekurang-kurangnnya seribu orang memenuhi jalan ketika kereta jenazah membawanya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Beberapa orang yang menerima berita kematiannya berkumpul bersama waktu yang lalu dan membayar perawatan abadi bagi kuburannya dan menempatkan suatu batu nisan yang agak istimewa diatasnya. Kuburan itu memiliki sebuah lilin Yahrzeit, persis seperti lilinya yang dinyalakan di jendela setiap malam, terukir dalam batu tersebut. Di bawahnya ada tulisan, “Bersama dengan anak-anaknya lagi.”
Kurasa setiap permukiman membutuhkan seorang Bu Grodefsky—seseorang yang menjadi ibu bagi seluruh masyarakat. Seseorang yang mati memegangi tangan yang gugup, mengusap jiwa yang terluka, atau menghibur hati yang hancur.
Tinggalkan sebuah Komentar