kita tidak sendirian!!!!!!


Cinta Itu Persis Seperti Lengan Yang Patah

Badai membuat pepohonan memperdalam akarnya.

Claude McDonald

 

“Tetapi bagaimana bisa tanganku patah lagi?” Tanya putriku yang berumur lima tahun, dengan bibir bawah gemetar.

Aku berlutut, memegangi sepedanya, dan memandang langsung ke matanya. Aku tahu betapa ia sangat ingin belajar naik sepeda sebagaimana ia sering merasa ditinggalkan ketika teman-tamannya malaju dekat rumah kami. Namun, semenjak ia jatuh dari sepedanya dan tangannya patah, ia merasa takut.

“Oh, Sayang,” kataku. “Ibu rasa kau tak akan patah tangan lagi.”

Tapi aku bisa patah tulang, kan?”

“Ya,” kataku mengakui dan menemukan diriku sendiri bersusaha untuk mengatakn hal yang tepat. Pada saat-saat semacam ini aku berharap punya pasangan hidup untuk minta bantuan, orang yang dapat menolongku menemukan kata-kata yang tepat untuk mengatasi persoalan-persoalan gadis kecilku. Tetapi setelah perkawinan yang penuh malapetaka, dan perceraian yang menyakitkan, aku menghadapi dengan tabah kesulitan-kesulitan menjadi orangtua tunggal dan memiliki sikap keras kepala untuk mengatakan kepada siapa pun yang mencoba mengalihkan niatku dari hidup sendiri selamanya.

“Rasanya aku tak ingin naik sepeda,” kata dan turun dari sepeda.

Ia berjalan dan duduk di sebelah pohon. “Kau kan ingin bersepeda bersama teman-temanmu?” tanyaku.

“Ya.” Katanya mengkaui.

“Dan ibu rasa kau ingin naik sepeda ke sekolah tahun depan,” tambahku.

“Yah, memang,” katanya, suaranya hampir gemetar.

“Kau tahu, Sayang,” kataku. “Sebagian besar dari apa yang kita lakukan ada resikonya. Kita bisa patah tangan dan jadi takut naik mobil lagi. Kita bisa patah tangan waktu main tali. Kita bisa patah tangan waktu senam. Apa kamu ingin berhneti senam?”

“Tidak,” katanya. Dan dengan suatu niat teguh, ia bediri dan setuju mencobalagi.

Aku memegangi bagian belakang sepedanya sampai ia menemukan keberanian untuk berkata, “Lepas, Bu.”

Aku menghabiskan sisa sore itu di taman, sambil mengamati seorang gadis kecil yang amat berani mengatasi rasa takutnya, dan memberi selamat pada diriku sendiri karena menjadi orang tua tunggal yang dapat mencukupi diri sendiri.

Ketika kami berjalan pulang, sambil mendorong sepeda sewaktu kami berjalan di trotoar, ia bertanya kepaku tentang sebuah percakapan yang pernah didengarnya antara aku dengan ibuku malam sebelumnya.

“Mengapa ibu dan nenek bertengkar kemarin malam?” Ibuku adalah satu diantara banyak orang yang terus-menerus mencoba mengaturku. Beberapa kali aku sudah mengatakan “Tidak” untuk bertemu dengan Tuan Sempurna yang dipilihnya untukku? Ia begitu yakin bahwa Steve adalah pria untukku.

“Itu bukan masalah,” “Nenek mengatakan ia cuma ingin ibu menemukan seseorang untuk dicintai.”

“Apa yang diinginkan Nenek adalah pria yang kan meremukkan hati Ibu lagi,” bentakku, sambil marah karena ibuku telah mengatakan sesuatu tentang hal ini kepada anak perempunku.

“Tapi, Bu…”

“Kau masih terlau kecil untuk memahami,” kataku kepadanya.

Ia diam selama beberap menit berikutnya, kemudian memandang ke atas dan dengan suara lembut memberiku sesuatu yang pantas dipikirkan.

“Jadi, kurasa cinta itu bukan seperti patah tangan.”

Karena tak mampu menjawab, kami berjalan menempuh sisa jarak itu dengan diam. Ketika sampai di rumah, aku menelepon ibuku dan memarahinya karena berbicara mengenai hal ini kepada putriku. Kemudian aku melakukan apa yang kulihat telah dilakukan gadis kecilku yang berani pada sore hari itu juga. Aku menyerah dan setuju untuk bertemu dengan Steve.

Steve ternyata pria yang tepat untukku. Kami menikah kurang dari satu tahun kemudian. Terbukti kemudian Ibu—dan putriku—benar.

 


Tinggalkan sebuah Komentar

(wajib)

(wajib)



Atur penampilan komentar anda
Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil