kita tidak sendirian!!!!!!


Kepala dan Pertandingan

Seseorang sahabat menderita penyakit kurang percaya diri setelah melaui proses perceraian yang sangat melelahkan. Ia sedikit enggan kembali ke dunia perkencanan, risau bahwa ia telah “kehilangan sentuhannya” dengan kaum wanita.

Celakanya, segera setelah mengakhiri hubungannya yang terdahulu, ia mulai kehilangan rambutnya, dan ia melihat ini sebagai sebuah isyarat dari surga bahwa ia ditakdirkan untuk membujang selamanya. “Siapa yang mau berkencan dengan orang botak?” katanya kepadaku pada salah satu malam sewaktu kami saling mengeluh sambil minum bercangkir-cangkir besar cappuccino yang enak. Sebagai orang bijak abadi, ia yakin bahwa rambut yang bagus merupakan karcis masuk menuju suatu hubungan yang sukses. “Apa yang bisa dielus-elus dengan jari seorang cewek sekarang?” serunya sambil berkecil hati. “Kulit kepalaku?”

Ketika ia mulai mengajak para wanita untuk pergi keluar, ia hanya membawa mereka ke tempat-tempat dimana topi bisbol dapat diterima—bermain Frisbee di taman, membawa anjing berjalan-jalan, pertandingan bisbol, atau peristiwa lain yang sedikit bernada olahraga di mana ia dapat menyembunyikan kepalanya yang menipis. Ini berhasil baik sementara waktu, tetapi hanya ada sebegitu banyak peristiwa olahraga yang dapat dikunjungi, dan hanya ada sedikit hari-hari cerah untuk melemparkan Frisbee dan membawa anjing berjalan-jalan.

Juga, salah satu segi besar kepribadian sahabatku itu adalah bahwa ia sama sekali senang pergi keluar untuk santap malam yang enak. Kami telah menikmati banyak malam di waktu kuliah dengan menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli berbotol-botol anggur, makan-makanan pembangkit selera, dan kudapan cokelat hangat di restoran-restoran yang bergengsi. Celakanya, tak ada satu pun restoran yang memperbolehkan pelanggannya mengenakan topi bisbol, tanpa menghiraukan betapa indahnya topi itu barangkali. Ini mulai menghambatnya dan sekali lagi semangatnya loyo, sampai ia menerima pemberitahuan di kotak surat bahwa ia memenangkan sebuah makan malam gratis untuk dua orang di sebuah restoran eksklusif di pusat kota.

“Selamat!” bunyi surat itu. “Anda dan seorang tamu telah terpilih untuk mencicipi dan menikamati masakan dan suasana tempat kami yang istimewa. Dapatkan sertifikat hadiah terlampir seharga lima puluh dolar!” Ia berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan semangatnya. Ia berfikir sungguh-sungguh mengenia apa yang harus dikenakannya, apa yang akan dipesannya, kapan mau perginya, dan….. siapa yang akan diajaknya. Ia tidak dapat mengenakan sebauh topi ke restoran baru ini. Tetapi siapa yang akan diajaknya yang tidak akan terkesiap oleh kepalanya yang hampir-hampir gundul itu?

Keningnnya mengernyit karena kecewa dan ia terkulai di sofa di dekatnnya. Setelah beberapa menit diam, ia berteriak “Aw, wuih. Aku akan pergi.” Sambil melompat dari tempat duduknya, wajah menampilkan perangai ceria yang sudah teramat biasa itu dan ia dengan segera melarik daftar kencan yang mungkin. Akhirnya ia memilih Sarah—wanita yang telah berbulan-bulan dikaguminya dari jauh. Ia duduk di kursi kesukaannya, menekan nomor telepon dengan penuh keyakin dan meminta Sarah untuk menemaninya—dan Sarah menerima dengan rasa syukur. Beberpa malam kemudian, dengan mengenakan pakaian yang sangat dendi dan kepala botak yang indah, ia dan Sarah menghabiskan petang yang sempurnya dan sejak saat itu jatuh cinta dengan asyiknya.

Dan aku mau mengatakan ini kepada Anda: Itulah lima puluh dolar terbaik yang pernah kukeluarkan.

 


Tinggalkan sebuah Komentar

(wajib)

(wajib)



Atur penampilan komentar anda
Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil